
Keluarga dalam pandangan antropologi adalah satu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerjasama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merakyat, dan sebagainya, sedangkan inti keluarga adalah azab, ibu dan anak.
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi rumah tangga masing-masing:
@ Pendidikan anak prenatal
Dimulai sejak saat memilih pasangan hidup ini adalah masalah ilmiah. Sifat orang tua besar kemungkinan diturunkan kepada anaknya. Jadi jika orang tua tidak ingin sulit mendidik anak, maka pilihlah jodoh yang tidak nakal.
Suasana lahir batin seorang ibu yang sedang hamil dapat berpengaruh pada anak yang dikandungnya. Jadi, bila seorang ibu hamil hindarilah problem. Suasana yang buruk saat kehamilan akan dapat menyebabkan yang lahir sulit dididik.
@ Memperdengarkan azan dan iqamat saat kelahiran anak
@ Mendidik anak dengan cara memberi nama yang baik
Memberi nama yang baik terhadap anak juga mengundang suatu taqlin (pengajaran) tentang syariat Islam karena dengan pemberian nama yang baik itu diharapkan melekat sifat yang baik pula pada anak tersebut. Sebagaimana hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Daud
Artinya:
“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kalian kaan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama papa kalian. Oleh karena itu buatlah nama yang baik untuk kalian.
@ Menyusui bayi (ASI)
Menyusui anak, tidak hanya bernilai dilihat dari segi kesehatan fisik, melainkan juga segi perkembangan kejiwaan, dan bernilai pendidikan.
@ Memilih teman bermain si anak untuk membantu orang tua dalam memilih teman bermain anaknya ada tiga patokan:
Pilih teman yang baik moralnya
Pilih teman yang cerdas (IQ-nya tinggi)
Pilih teman yang kuat aqidahnya.
@ Mengisi waktu luang anak-anak dengan kegiatan yang bermanfaat bagi perkembangannya.
@ Pembinaan dan mencontohkan
Penanaman iman kepada anak-anak dapat dilakukan dengan pembiasaan. Pembiasaan tidak memerlukan keterangan atau argument logis. Maksudnya biasakanlah anak-anak itu dan tidak perlu dijelaksan berulang-ulang mengapa harus begitu. Dengan demikian, pembiasaan itu datang dari kebiasaan itu sendiri.
Dan berilah contoh langsung tanpa banyak keterangan. Perhatikan bagaimana kehidupan beragama sehari-hari seperti; membaca basmalah dari setiap pekerjaan.
@ Hindari konflik ibu-bapak di depan anak
Pertengkaran orang tua tidak baik dilihat dari segi pendidikan anak dalam keluarga. Pendidikan agama bukanlah sekedar pendidikan dan pengajaran, ternyata lebih luas mencakup suasana umum di rumah tangga.
@ Melaksanakan peribadatan dengan teratur
@ Orang tua menyeru anaknya ikut aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan.
Dari beberapa metode tersebut semuanya bertujuan untuk penanaman nilai keimanan dalam hati generasi pelanjut yaitu anak-anak sebagai salah satu bagian dari suatu keluarga.
Disnilah orang tua sebagai individu dewasa bertanggung jawab akan pendidikan keagamaan pada anaknya karena keluarga merupakan bagian kecil dari lembaga sosial yaitu masyarakat yang hidup berperadaban dan memiliki tata nilai baik itu hukum keagamaan maupun hukum kemasyarakatan.
Source: masbied.com
No comments:
Post a Comment